Showing posts with label ypmmd majene. Show all posts
Showing posts with label ypmmd majene. Show all posts

Sunday, December 1, 2013

AKU INGIN ANAK-ANAKKU TERBIASA MERASA LAPAR



Aku ingin anak-anakku terbiasa merasa lapar
Agar mereka tahu arti kenikmatan sepiring nasi
Dan jika nanti mereka diberi kesempatan untuk memilih
Aku ingin mereka menikmatinya sebagai karunia ilahi
Bukan karena mereka pantas mendapatkannya

Aku ingin anak-anakku terbiasa merasa lapar
Agar disaat mereka kenyang, mereka tidak lapar lagi
Lapar pada hal-hal yang akan membuat mereka sakit
Lapar pada kekuasaan..lapar pada harta benda
Dan terus merasa lapar hingga mereka sendiri lupa
Apa sesungguhnya makna lapar

Aku ingin anak-anakku terbiasa merasa lapar
Agar mereka terbiasa berbagi dengan orang lain yang lebih lapar
Agar mereka terbiasa berbagi sedikit rezeki dengan yang lain
Dan tidak menyimpan rezeki yang diberi Tuhan hanya untuk
                                                                  memenuhi rasa lapar lainnya yang mulai mereka rasakan

Aku ingin anak-anakku terbiasa merasa lapar
Agar mereka tidak terbiasa membuat orang menjadi lapar
Hanya karena lapar ingin mengambil hak orang lain
Lapar ingin  mengambil uang negara
Lapar ingin cepat menjadi orang yang tak pernah lapar.

Aku ingin anak-anakku terbiasa merasa lapar
Agar mereka tahu bahwa banyak orang yang tak pernah merasa kenyang
Meski mereka secara teratur disiapkan makanan oleh para pelayannya
Dengan berbagai jenis dan rasa yang entah apa namanya
Namun mereka tetap merasa lapar dan lapar
Karena lapar mereka yang sesungguhnya adalah penyakit

Aku ingin anak-anakku terbiasa merasa lapar
Agar mereka selalu ingat aku..sang ayah yang sering menahan lapar
Agar mereka sesering mungkin terbiasa merasa lapar.


Aziil Anwar
Jam 12.35 wib, akhir November 2013,
diantara tumpukan makanan di Red Hotel Jakarta

Monday, July 29, 2013

Sang Komprador Hutan

SANG KOMPRADOR



Diantara semilir angin pegunungan
Diantara batas hutan  dan pemukiman
Diantara tetes keringat  petani malang
Sayup terdengar isak generasiku
Renungi alam …semakin  gersang
Oh….hutan semakin tak berdaya
Saksi bisu tingkah laku manusia
Tebang habis tinggalkan kehancuran
Tak perduli nasib anaknya
Tak perduli nasib  cucunya
Tak perduli nasib generasi  nanti

Diantara damainya suasana desa
Hutan tropis…canda satwa
Gemerincik air pancuran
Dan bau tanah yang menggairahkan
Sekelompok petani bersarung ..menabur benih
Harap benih jadi pepohonan
Pepohonan yang kelak jadi belantara

Sementara di ujung seberang desa
Sekelompok perambah hutan
Dan bukan petani
Berdasi…aksi…melangkah pasti
Berlomba mengukur alam
Berbekal HPH yang mungkin bermakna
Habisi Penghuni Hutan
Selembar surat sakti berharga sekian  juta
Jabat  tangan bersatu mencincang alam
Menyulap mahoni, angsana, meranti, kaliandra, jati
Ekaliptus, gmelina, sengon, agathis, pinus
dan lain lain…..dan lainnya-lainnya
Menjadi…sim salabim….
Pulp, partikel board, triplex, tiang, papan, korek api,
 mobil, villa, deposito dan lain lain………dan lain lain
dan berkibarlah benderamu
lambang suci yang tak gagah lagi

Diantara batas belantara dan gubuk petani
Sekelompok perambah  hutan
Punya rancangan dan izin merusak
Punya teknisi…praktisi dan amunisi
Mengangkangi adat…habitat dan aparat
Menebang dengan sejuta alasan
Demi kepentingan negeri tercinta
Demi kejayaan bangsa di mata dunia
Demi peningkatan devisa negara
Dan masih banyak sejuta alasan yang terprogram
Siap dimuntahkannya dengan satu gerakan telunjuk

Sementara sang  tehnisi  tahu
Menanam adalah deret hitung
Dan sang praktisi tahu
Menebang adalah deret ukur

Diantara semilir angin pegunungan
Sekelompok petani… lapar dan masih bersarung
Sujud di atas lahan yang bukan miliknya
Lemah berdoa…ya Allah…ya Rabbi
Sadarkan mereka dari kebodohan makna lingkungan
Buka mata hati mereka…beri mereka rasa
Agar bisa mendengar apa kata alam
Agar bisa membaca tanda-tanda kemarahan alam.

Lihat…apa yang terjadi
Air hujan menampar sesuka hati
Tiupan angin menerjang tanpa halangan
Air-air pancuran tak lagi menetes
Anak-anak satwa yang kehilangan tempat berteduh
Dan ayunan cangkul petani
Yang semakin lemah menerjang batu

Dialam sana
Diantara ada dan tiada
Sekelompok perambah hutan
Tanpa sarung tanpa dasi
Menjerit tanpa ada yang mendengar
Meratap tanpa suara yang terdengar
Lirih penuh sesal berbisik
Anakku….
Maafkan kami yang tak bisa menjaga alam
Titipan yang kalian pinjamkan kepada kami

AziilAnwar
Majene, 4 November 1996
Pencipta puisi ini memperoleh penghargaan Kalpataru pada tahun 2003

Sunday, August 12, 2012

Puisi Untuk DIANA


Detak nadi terasa resah
Iringi hentakan nafas yang melemah
Apakah aku harus pasrah
Naluriku gerah
Aku tak betah

Ayat cinta yang pernah kau kumandangkan
Riuh terngiang bagai jebakan
Virus cinta yang kau hembuskan
Indah namun sangat menyakitkan, dan
Arti cinta yang kau isyaratkan
Nyaris membuat aku berlari tanpa tujuan..dan
Ingin rasanya menerjang semua rintangan
Tuk sekedar mencicipi gelepar cinta yang kau hadirkan
Agar kau tahu betapa berharganya cinta yang ku persembahkan

Waktu berdetak semakin jauh
Isaki janjimu yang kian rapuh
Jiwa ini lemah dan semakin goyah
Altar cinta telah retak dan berangsur rebah
Yang tersisa adalah luka sukma nan parah

Aku bukan terlahir untukmu wahai sang Pemarah.



Majene,15 Juli 2012

Monday, June 27, 2011

How could you do?

 HOW COULD YOU DO IT?


when nothing else but you and me
tropical fruits, hot water, night in seaport and my future dreams
I remember how it used to be

I miss those days when you'd call me with your heart
I remember how wonderful it felt the first time
I held you in my arms, and how after all those

sometimes I wonder how you do it
how can you sit back and watch yourself hurt someone so bad
and not feel any guilt
ohhh.....
you were the one who took my heart and locked it inside of yours
you placed my finger in between each of yours
and at the end
you took that heart and you shredded it to pieces
you could have just ripped it in half
then it would be easier to put back together
but instead, you tore it,
piece by piece you shredded it
and no one can fix it, no one wants to
because they look at what you made me
a man with permanent tears painted on my face
I am now just an empty void
there is no desire to want to love again

yeah....
I miss us as I remember how it used to be
when nothing else matter but you and me
but the game is over... it just a game in your mind
it just a game
I hate the fact that everybody know how much I love you, except you.
Aziil Anwar
Medio March, 2011